Persaingan Jokowi dan Prabowo Sebagai Berita Politik Paling Laris

Persaingan Jokowi dan Prabowo Sebagai Berita Politik Paling Laris

Berita politik memang sudah ramai dibicarakan untuk tahun- tahun ini, terlebih untuk periode masa kampanye pemilu 2019 yang sudah dijalankan saat tanggal 23 September tahun 2018 lalu, dan memang akan memanas pada puncaknya di 13 April 2019, yang tinggal menghitung beberapa bulan lagi.

Di sisi petahanan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin atau Prabowo Subianto yang sudah berpasangan dengan Sandiago Uno terlihat memanas ketika debat Capres sampai Cawapres kemarin. Oleh karena itu hal tersebut merupakan berita politik yang paling seru, dan tentunya kita sudah harus menentukan pilihannya masing- masing. Apa saja yang memang harus kita perhatikan saat menjelang Pilpres April 2019 ini? Simak ulasan di bawah ini.

Persiapan Debat Pilpres Fase Ke- 4

Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah melakukan evaluasi yang menghasilkan beberapa nama, untuk menjadi panelis untuk debat keempat pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Tentu saja debat politik yang tahun ini akan terasa spesial, dan menjadikan santapan untuk berita politik. Karena rivalitas para paslon ini, hanyalah 2 kubu dan seperti sebuah pemilu yang dilakukan di Amerika, antara demokrat dan republik.

Dalam debat keempat ini, Joko Widodo dan juga Prabowo Subianto tampak siap untuk memulai perang argumen dan pola fikirnya di panggung panas pada 30 Maret 2019 yang bertepatan di Hotel Shangri-La, Jakarta. Ideologi, Hankam , pemerintahan, serta hubungan internasional, menjadi pembahasan yang sangat baik untuk sebuah berita politik yang intelektual.

Sembilan panelis yang disiapkan oleh KPU, akan berkumpul tanggal 27 Maret 2019. Dalam acara Focus Group Discussion (FGD), disamping itu melibatkan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam penyusunan pertanyaan untuk debat nanti.

KPU Tetap Untuk Metro TV

KPU masih konsisten untuk media penyelenggara untuk debat keempat pada Pilpres 2019. Metro TV selaku media peliput berita politik, dipilih dari tiga stasiun televisi kandidat penyelenggara debat Pilpres 2019 ini. Namun, sebelumnya  Badan Pemenangan Nasional (BPN) untuk Prabowo – sandi sempat mengatakan atas keberatannya.

Dan akhirnya keputusan memilih Metro TV ini sudah di sepakati oleh Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi dan Ma’ruf serta Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo dan Sandiaga. Sehingga sudah tidak ada lagi keberatan antara para tim kampanye dari kedua kubu paslon.

Direktur relawan BPN, mengungkapkan bahwa, Metro haruslah sebagai media berita Politik yang netral. Dan menurut dirinya, semua media berita politik, sepatutnya menjadi media yang netralitas dan juga menjaga sikap independensi untuk Pilpres 2019 ini mereka selama debat.

Problematika Masalah Agama Santapan Berita Politik

Tentunya tahun politik ini, menjadi beberapa isu yang kurang elok dari sebagian media yang memberitakan berita politik. Disamping problematika ekonomi, hal lain sudah muncul belakangan ini. Isu tentang agama dan kepemimpinan, sudah pasti akan mempengaruhi pilihan warga Indonesia yang berjumlah 187 juta. Jumlah itu merupakan jumlah warga yang mempunyai hak pilih di tahun 2019 ini.

Beberapa hal yang memang sudah dipandang sebagai bagian dari strategi pemilu pada kubu Jokowi dalam pilpres 2019 tentu sudah mencalonkan KH. Ma’ruf Amin, yang merupakan sesepuh Organisasi Masyarakat Keislaman paling tersohor Nahdatul Ulama. Beliau memang telah mengeluarkan fatwa yang menyudutkan Ahmadiyah dan LGBT ketika menjabat di MUI.

Prabowo dan pihaknya pun tidak ingin ketinggalan aspek untuk bersaing dengan Jokowi, dan beberapa kelompok ulama tertentu memang mendukung dan siap berada di punggung Prabowo. Berita politik dan persoalan Agama memang sangat kental pada tahun politik ini. Contoh sepak terjang Gerindra dalam keterlibatan kasus SARA oleh Gubernur Jakarta sebelumnya.

Agama, Suku, Ras dan juga golongan tertentu, sudah sepatutnya menjadi sebuah komoditas politik dan pemberitaan politik yang gampang mencuat. Namun beberapa pihak seperti Prof Dr I Gede P.A, mengatakan  bahwa hal tersebut sangatlah riskan untuk mendapatkan potensi perpecahan.

Aspek Media sosial Dan Juga Serangan Fajar

Media Sosial, Contohnya Facebook, Instagram, Youtube dan Twitter sudah menjadi alat yang lumrah di lakukan untuk berbagai berita politik. Cara tersebut memang sudah dilakukan oleh berbagai sukarelawan antara Jokowi dan Prabowo. Namun beberapa oknum tentu saja melakukan hal tersebut kurang relevan. Dan pihak pengawas pemilu pun memang tidak bisa berjalan serentak begitu saja, karena komoditi para warga netizen pun tidak semuanya bisa di saring dan di awasi.

About: admin


shares